- Konsep Islam Tentang Ilmu
Pengetahuan
Efistemologi islam mengandung sebuah
konsep yang holistic mengenai pengetahuan. Di dalam konsep ini tidak tedapaat
pemisah antara pengetahuan dengan nilai-nilai. Al-qur'an juga menekankan agar
umat islam mencari ilmu pengetahuan dengan meneliti dalam semesta ini, dan bagi
bagi orang yng menuntut ilmu di tinggikan derajatnya disisi Allah, bahkan
tidaak sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui. Firman
Allah dalam Al-Qur'an Artinya: Allah akan meninggikan orang yang beriman
diantara kamu dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dari ayat di atas dapat dipahami
bahwa dalam islam tidak pernah menganggap
adanya dikotonomi ilmu pengetahuan dan agama. Ilmu pengetahuan dan agam
merupakan satu totalitas yang itntegral yang tidak dapat dipisahkan satu dengan
yang lainnya.
Selanjutnya Ziauddin Sardar
mengeemukakan sebuah artikulasi terbaik mengenai efistemologi ilmu peengtahuan
yang diperolehnya dalam kitab pengetahuan karya Imam Abua Hamid Muhamad
Alghozali (1058-1111)
- Sumber
- Pengetahuan
yang diwahyukan: pengeetahuan ini diperoleh oleh para Nabi dan Rosul
- Pengetahuan
yang tidak diwahyukan: sumber pokok dari ilmu-ilmu ini adalah akal,
pengamatan, percobaan, dan akulturasi.
- Kewajiban-kewajiban
- Pengetahuan
yang diwajibkan kepada setiap
orang: yaitu pengetahuan yang penting sekali untuk keselamatan seseorang
misalnya: etika social, kesusilaan,
dan hukum sifil.
- Pengetahuan
yang diwajibkan kepada masyarakat: yaitu pengetahuan yang penting sekali
untuk keselamatan seluruh masyarakat
misalnya: pertanian, obat-obatan, dan
teknik mesin
- Fungsi
sosial
- Ilmu
yang patut dihargai: yaitu ilmu yang berguna dan tidak boleh diabaikan
karena segala katifitas hidup ini tergantung kepadanya'
- Ilmu
yang patut dikutuk: yaitu ilmu ilmiah mengenai penyiksaan.
Dari
kerangka di atas dapat dipahami bahwa antara agama dan sains tidak berdiri
sebagai dua buah cultur yang saling terpisah,tetapi sebagai dua pilar yang
memperoleh rasa solidaritasnya,
- Sejarah Timbulnya Dikotonomi
Ilmu Pengetahuan
Persoalan dikotomi merupakan
persoalan yang hangat dibicarakan, hal ini merupakan warisan pemerintah kolonial
belanba. Akhirnya terjadi pemisahan antara sekolah-sekolah umum dengan sekolah
Agama sehingga pendidikan umum terus berkembang dengan bebas tanpa dibatasi
oleh kaedah-kaedah Agama. Sedangkan sekolah-sekolah agama terkesan
berpendidikan rendah, ber IQ rendah dan tidak mau menerima kemajuan teknologi.
Untuk itu diperlukan keterpaduan antara ilmu dan agama, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi harus dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Kita
harus bisa menempatkan ilmu dan agama sesuai pada. tempatnya. Adakalanya
hal-hal yang tidak bisa dipelajari dengan akal (hanya bisa dipelajari dengan
wahyu) dan sebaliknya kita tak bisa menggunakan wahyu dalam hal-hal keduniaan
(yang membutuhkan akal untuk mempelajarinya).
Dikotonomi ilmu pengetahuan merupakan
sebuah ilmu yang selalu maraak diperbicangkan dan tidak berkesudahan, disatu
pihak ada pendidikan yang hanya mendalamkan ilmu pengetahuan yang modern, yang
kering dari nilai keagamaan, dan disisi lain ada pendidikan yang hanya
memperdalamkan masalah agama yang terpisah dari perkembangan ilmu pengetahuan.
Secara teoritis makna dikotonomi
adalah pemisah secara teliti dan jelas dari suatu jenis menjadi dua yang
terpisah satu sama lain dimana yang satu sama sekali tidak dapat di masukkan
kedalam yang satu nya lagi dan sebaliknya.
Berangkat dari depenisi diatas dapat
diarti kan bahwa makna dikotonomi adalah pemisah suatu ilmu menjadi dua bagian
yang satu sama lain nya saling member kan arah dan makna yang berbeda dan tidak
ada titik temu antara kedua jenis ilmu tersebut.
Dilihat dari kaca mata islam,jelas
sangat jauh berbeda dengan konsep ilmu pengetahuan itu sendiri,karna dalam
islam ilmu dipandang secara utuh dan unifersal tidak ada istilah dikotonomi.
Sesungguh nya Allah lah yang
mencipta kan akal bagi manusia untuk mengkaji dan mengenalisis apa yang ada
dalam alam ini sebagai pelajaran dan bimbingan bagi manusia dalam menjalankan
kehidupannya didunia. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam surat Ali-Imron
ayat 190 yang artinya:; sesungguh nya dalam penciptaan langit dan
bumi,dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang
berakal.
Apabila kita lihat saat ini,para
ilmuan cendrung memisahkan antara ilmu agama dan ilmu keduniaan,
Maka dalam keadaan ini masyarakat muslim melihat kemajuan
baratsebagai suatu yang mengagumkan,hal ini menyebabkan kaum muslimin tergoda
oleh kamajuan barat dan berupaya melakukan repormasi dengan jalan menjauhkan
umat islam dari Al-qur"an dan hadist.
Menurut analisa penulissemua terjadi
karna umat islam tidak mempunyai prinsip atau pegengan yang kokoh.mereka telah
menghancur kan umat islam yang membuat mereka meniggal kan sumber ajaran
mereka.
- Itegrasi Ilmu-Ilmu Umum Dan
Ilmu Pengetahuan
Salah satu upaya yang dilakukan oleh
para pemikir islam adalah pengintegrasian kembali ilmu umum dan ilmu keislaman.
Menurut imadudin khalil integrasi
berarti melakukan aktivitas keilmuan
sepertimengungkap,mengumpukan,menghubungkan,danmenyebar luaskannya menurut
sudut pandang islam terhadap alam,kehidupan,dan manusia.dari pengertian di atas
dapat disimpulkan bahwa yang menjadi substansi sentral dari islamisasi ilmu
pngetahuan adalah meletakkan prinsip-prinsip tauhid sebagai landasan ilmu
pngetahuan.ide islamisasi ilmu yang di gulir kan imaduddin ini merupakan ide
besar yang sempat memukau para ilmuan muslim di dunia.namun demikian ,ide
tersebut mendapat respon yang bermacam-macam.ada yang setuju dan mendukung ide
ini dan ada pula yang menyengkal dan mengatakan tidak mungkin bias dilakukan
terhadap ilmu pengetahuan.
Dari beberapa perbedaan pendapat
diatas agaknya lebih tepat apa yang dikemukakan A.M.saifudin bahwa islamisasi
ilmu pengetahuan perlu direalisasikan di dunia islam dengan alas an bahwa
kondisipemikiran di dunia islam sudah terlanjur dikotonomis parsial, memisahkan
sain dari kehidupan religious umat islam ,untuk menumbuhkan kembali semangat
keilmuan ,
- Hubungan
Antara Ilmu dan Agama
Menurut Dr Mochtar Muin ilmu adalah
alat yang diberikan kepada manusia untuk mengetahui dan mengenal rahasia-rahasia
alam ciptaan Tuhan yang dengan itu mereka bisa memeliharanya dengan
sebaik-sebaiknya sebagai khalifah Allah dimuka bumi. Ilmu apa saja jika
diletakkan dalam misi itu akan menjadi islami yaitu wujud dan muara dari
keseluruhan kegiatan dalam rangka pengabdian total kepada Allah. Hubungan
antara ilmu dan agama ialah suatu pemikiran manusia terhadap kebenran hakiki
Allah, melalui fenomena qauniyah dan fenomena
aqliyah yang berkembang terus menerus. Inti pemahaman hubungan tersebut
ialah keimanan dan ketundukan mutlak manusia kepada Allah yang tercermin dalam
sikap dan prilaku:
- Kebenaran
Mutlak (al-haq) hanya kepada Allah semata dan kebenaran yang
dicapai manusia (dengan qauniyah atau naqliyah) hanya
kebenaran relative
- Keyakinan
akan tiadanya pertentangan antara ilmu dan agama karena keduanya berasal
dari sumber yang sama
- Kesadaran
bahwa ilmu bukan satu-satunya sumber kebenaran dan bukan satu-satunya
jalan pemecahan bagi problema kehiduapan manusia.
Arus perkembangan ilmu pengetahuan semakin maju dan
mengahasilkan berbagai macam teknologi modern. Namun jika kemoderenan itu tanpa
etika agama dan bimbingan moral serta keimanan kepada Allah, maka kemoderenan
itu justru akan membawa kita pada kehiduapan yang tebih tidak bahagia, kacau
dan sengsara. Kita harus menjadikan agama untuk mengendalikan dan membimbing
prilaku mereka dalam pencarian pengetahuan. Kebutuhan (akan agama) jangan
merintangi kemajuan ilmiah justru sebaliknya harus mendorong kemajuan ilmiah.
Kita tidak harus melakukan pembatasan-pembatasan terhadap
kegiatan para ilmuwan yang kian mengahambat pemikiran-pemikiran mereka, selama
agama selalu menekankan kewajiban manusia mencari pengetahuan tentang alam
semesta guna meningkatkan kemampuan dan meraih keuntungan yang lebih besar dari
lingkungannya. Agama Islam tidak menentang ilmu, tetapi menentang
penyalahgunaan ilmu den teknologi.
Suatu masyarakan yang dibimbing oleh nial-nilai etika dan
tradisi besar Islam, dapat menghasilkan ilmu yang dapat memuaskan seluruh
manusia. Ilmu dapat mengahsilkan teknologi yang tidak begitu merusak lingkungan
manusia juga tidak didorong oleh keinginan akan keuntungan material dan lebih
menunjukkan kepeduliannya pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang
terbimbing oleh wahyu. Oleh karena itu, system pendidikan yang dilandasi Islan
sangat diperluka untuk menjawab semua persoalan yang menjadi kebutuhan
masyarakat umum.
Para ilmuan kita harus melibatkan diri dalam mengkaji ulang
ilmu dan budaya-budaya barat yang masuk, kesemuanya harus tetap sejalan dengan
ajaran agama Islam. Dengan demikian pendidikan Islam mepunyai makna yang
berarti dalam sistem pendidikan modern..
Hubungan yang panjang antara dunia muslim dengan dunia barat
dalam bidang studi-studi ilmiah, sejauh pengamatan kita pendidikan muslim
mengahasilkan tenaga ahli, tetapi bukan ilmuwan, tenaga tekhnik tapi bukan
penemu. Hal ini meyebabkan ilmuwan kita tidak berpartisifasi penuh.
Masyarakat kita membutuhkan keserasian antara pengetahuan
dan kepercayaan (antara ilmu dan agama). Ketiadaan akan keserasian itu, ilmuwan
kita dapat terus menyambung dengan ilmu pengetahuan dan keimanan (kesalehan).
Ilmu pengetahuan yang didasari kesalehan harus menjadi pola pikir tiap orang
serta menjadi semangat seluruh manusia. Manusia harus menarik garis tegas
antara iman dan akal, antara ilmu dan agama. Manusia harus belajar untuk tidak
menggunakan yang satu untuk meneliti yang lain Kita tidak boleh memakai kuping
untuk melihat dan mata untuk mendengar. Kita harus menahan diri dari
menggunakan akal dimana tempat yang sebenarnya hanya wahyu yang dapat
diandalkan. Oleh karena itu, tidak ada permusuhan wahyu dengan akal, tidak
terkandung maksud ilmu menentang agama atau agama menjajah ilmu. Tujuannya
ialah agar ilmu di bawah pengayoman ilmu, agama dapat berfungsi sebagai
keseluruhan aural ibada. Sebab dalam Islam, salah satu amal ibadah yang
tinggi nilainya ialah mencanri ilmu pengetahuan.
Untuk memulainya, sekolah-sekolah dan
universitas-universitas harus berusaha menanamkan prinsip-prinsip dasar
keimanan dalam hati sanubari murid-muridnya. Guru harus menjadi teladan bagi
murid dalam hal ketaatan pada hukum dan kesetiaannya pada tingkah laku yang
berakhlak. Agama dapat menjadi ilham untuk menjaminnya agar tidak keluar jalur
atau menyalahgunakan ilmu untuk menggeser wilayah agama. Pengetahuan agama
menempati tempat pokok dalam sistem pendidikan Islam dan pendidikan ilmiah
harus diberikan tenpat dan waktu dengan sebaik-baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar